Breaking News

Sudah Bertahun-Tahun 'Ngaji' Tapi Tak Ada Perubahan

بسم الله الرحمن الرحيم

Sebagai pembukaan saya ingin menuliskan sedikit nasehat dari Al-Ustadz Al-Fadhil Dzulqarnain bin Muhammad Sunusi hafizhahullah. Beliau menjelaskan bahwa seorang penuntut ilmu akan tampak perbedaannya dengan orang yang tidak menuntut ilmu. Seperti cara dia berbicara, bersikap, berpikir, menghadapi masalah, dan selainnya. Maka ilmu itu harus diamalkan dan dijadikan sebagai kepribadiannya, karena ilmu yang bermanfaat akan tampak pada kehidupannya.

Ketika sudah bertahun-tahun menuntut ilmu dari satu majelis ke majelis yang lain, namun setelah ilmu itu kita dapatkan ternyata tidak tampak pada kehidupan kita, maka perlu diwaspadai. Bisa jadi itu adalah ilmu yang tidak bermanfaat dikarenakan niat yang salah dalam menuntut ilmu atau kemaksiatan yang menutupi jalannya ilmu untuk sampai kepada kita.

Ilmu yang bermanfaat itu memiliki beberapa tanda, ketika semua tanda itu tidak terkumpul pada diri kita maka ilmu itu belum bisa memberikan manfaat kepada pemiliknya. Ilmu itu menjadi sesuatu yang tidak memiliki nilai guna sebagaimana bisa disifati dengan,

لا يسمن ولا يغني من جوع

"Yang tidak menggemukkan dan tidak pula menghilangkan lapar." (QS. Al-Ghasyiyah: 7)

Ya, mungkin di antara kita ada yang sudah lama mengenal yang namanya “ngaji”.
Kita sudah lama mengenal bahasa Arab…
Atau…
Kita sudah lama membaca Al-Qur’an…
Kita sudah lama membaca hadits-hadits nabi…
Kita sudah lama mendengar nasehat ulama…
Kita sudah lama mengikuti majelis ta’lim…
Namun…
Mungkin di antara kita masih terasa kering hatinya…
Air mata kita tak mampu meleleh di saat kalamullah diperdengarkan…
Tubuh ini masih terasa capai untuk menegakkan shalat malam…
Lisan ini masih diam ketika melihat kemungkaran…
Tangan ini masih tak bergerak di kala orang-orang yang kita kenal bermaksiat…
Ya…
Mungkin banyak di antara kita sudah lama “ngaji”, tetapi kita belum merasakan manisnya ilmu…[1]

Maka kita perlu instrospeksi, dari sisi manakah kesalahan dalam menuntut ilmu ini karena begitu banyak rintangan yang menyebabkan kita gagal dalam menuntut ilmu. Beberapa poin berikut ini merupakan faidah yang saya dapatkan dari Al-Ustadz Khaliful Hadi hafizhahullah yang kemudian sedikit saya kembangkan penjelasannya.

Tanda pertama ilmu yang bermanfaat adalah al-'amalu bihi, ilmu itu bisa diamalkan. Ketika kita mendapatkan ilmu kemudian bisa kita amalkan, maka itu adalah ilmu yang bermanfaat. Kita menanam pohon itu supaya bisa dipetik buahnya. Maka sebagaimana ilmu, kita mencari ilmu supaya mendapatkan buahnya berupa amalan shalih.

 Abu Darda radhiallahu 'anhu berkata,

لا تكون عالماً حتى تكون متعالماً ، ولا تكون بالعلم عالماً حتى تتكون به عاملاً

"Tidaklah seorang berlimu sampai ia belajar (sebelumnya), tidaklah seorang berilmu terhadap suatu ilmu sampai ia mengamalkannya."[2]

Al-Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata,

لا يزال العالم جاهلاً بما علم حتى يعمل به ، فإذا عمل به كان عالماً

"Seorang 'Alim (berilmu) itu masih dianggap jahil (bodoh) apabila dia belum beramal dengan ilmunya. Apabila dia sudah mengamalkan ilmunya maka jadilah dia seorang yang benar-benar 'Alim (berilmu)."[3]

Kita tahu keutamaan shalat malam misalnya, ternyata enggan dan sulit untuk shalat malam. Maka ilmu itu tidak bermanfaat. Sudah mengetahui keutamaan amalan ini dan itu tapi enggan untuk mengamalkannya, maka itu termasuk ilmu yang tidak bermanfaat.

Al-Imam Malik bin Anas rahimahullah berkata,

ليس العلم بكثرة الرواية ولكن العلم الخشية

"Ilmu itu bukan dengan banyaknya hafalan riwayat, melainkan ilmu itu rasa takut (kepada Allah)."[4]

Kalau kita belajar, lisan kita malah semakin tajam tak ada rasa takutnya kepada Allah. Maka perlu dipertanyakan ilmu yang kita dapatkan itu.

Ibnu Mas'ud radhiallahu 'anhu berkata,

كفى بخشية الله علما ، وكفى بالاغترار بالله جهلا
"Siapa yang takut kepada Allah maka dia adalah orang yang berilmu. Siapa yang bermaksiat kepada Allah maka dia adalah orang yang bodoh."[5]
Selanjutnya yang kedua, termasuk tanda ilmu yang bermanfaat adalah tidak suka dengan pujian. Kalau ada seseorang memberikan pujian dengan mengatakan, "Antum ini masyaAllah, cerdas, hafal hadits, kadza wa kadza..." Langsung senang dan gembira, maka perlu diingat pujian itu sebenarnya untuk apa? Apakah tujuan kita belajar untuk mencari pujian manusia? Sedangkan tujuan kita mencari ilmu itu supaya takut kepada Allah. Apa yang hendak dibanggakan? Ini yang perlu dipertanyakan, apa tujuan kita dalam belajar.

Pujian manusia itu sama sekali bukan jaminan kita untuk masuk surga. Karena yang menjadi sebab masuknya kita ke dalam surga adalah amalan-amalan kita untuk mendapatkan ridha Allah bukan ridha manusia. Walaupun banyak orang yang memuji sedangkan amalan kita tidak sesuai dengan Al-Qur'an dan As-Sunnah maka tidak bermanfaat pujian itu.

Asy-Syaikh Abdurrazaq Al-Badr hafizhahullah memberikan nasehat,

العاقل لا يلتفت إلى ثناء الناس عليه وإطرائهم له، فهو أدرى بظلم نفسه وتقصيرها وتفريطها منهم، فلا يدع يقين ما عنده من معرفةٍ بحال نفسه لظن الناس فيه

"Orang yang berakal tidak akan merasa senang dengan pujian manusia kepadanya karena ia sadar dengan kedzaliman dirinya, kekurangannya, dan sikap bermudah-mudahan yang ada padanya. Maka janganlah merasa senang dengan sanjungan manusia karena setiap diri lebih mengetahui keadaan dirinya sendiri (dibanding orang lain)."[6]

Ketiga, tanda ilmu yang bermanfaat itu semakin tinggi ilmunya maka semakin dia tawadhu'. Akan tetapi apabila semakin tinggi ilmunya dia menjadi semakin sombong dan merendahkan orang lain maka ilmu itu tidak bermanfaat baginya.

Wahb bin Munabih rahimahullah berkata,

إن للعلم طغيانا كطغيان المال

"Sesungguhnya ilmu dapat membuat sombong sebagaimana harta."[7]

Abu Wahb Al-Marwazi rahimahullah berkata,

سألت ابن المبارك, عن الكِبْرِ, فقال: أن تزدريَ الناس, وسألته عن العُجب؛ فقال: أن ترى أنّ عندك شيئاً, ليس عند غيرك

"Aku bertanya kepada Ibnul Mubarak tentang kesombongan. Beliau menjawab, 'Kesombongan adalah engkau meremehkan dan merendahkan manusia.' Kemudian aku bertanya kepadanya mengenai ujub. Beliau menjawab, 'Ujub adalah engkau memandang bahwa dirimu memiliki sesuatu yang tidak ada pada selainmu."[8]

Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullah berkata,

العلم ثلاثة أشبار، من دخل في الشبر الأول تكبر، ومن دخل في الشبر الثانى تواضع، ومن دخل في الشبر الثالث علم أنه ما يعلم

"Ilmu itu ada tiga jengkal, barangsiapa yang masuk jengkal pertama maka ia menjadi sombong, barangsiapa yang masuk jengkal kedua maka ia menjadi tawadhu’, dan barangsiapa yang masuk jengkal ketiga maka ia baru menyadari bahwa dirinya tidak tahu."[9]

Keempat, tanda ilmu yang bermanfaat itu menjadikan dirinya lari menjauhi popularitas dan jabatan. Karena orientasi mencari ilmu adalah supaya menambah rasa takut kepada Allah bukan mencari kedudukan. Bukan supaya jadi pemimpin/ketua, didengarkan omongan-omongannya di hadapan manusia, atau supaya orang lain bisa tunduk dan menghormatinya.

Ibnu Rajab rahimahullah berkata,

فلهذا كان من علامات أهل العلم النافع : أنهم لا يرون لأنفسهم حالا ولا مقاما ويكرهون بقلوبهم التزكية والمدح ولا يتكبرون على أحد

"Di antara tanda orang yang memiliki ilmu yang bermanfaat adalah ia tidak melihat dirinya memiliki status maupun kedudukan khusus. Hatinya membenci rekomendasi dan sanjungan orang lain. Ia juga tidak takabbur di hadapan orang lain."[10]

Al-Imam Al-Baihaqi rahimahullah berkata,

اعلم أن أصل الجاه هو حب انتشار الصيت والاشتهار، وذلك خطر عظيم، والسلامة في الخمول. وأهل العلم لم يقصدوا الشهرة، ولم يتعرضوا لها ولا لأسبابها، فإن وقعت من قبل الله تعالى، فروا عنها، وكانوا يؤثرون الخمول

"Ketahuilah, pondasi dari suatu kedudukan adalah senang tersebarnya reputasi, cinta ketenaran, dan kemasyhuran, padahal itu merupakan bahaya yang sangat besar. Adapun keselamatan itu terdapat pada lawannya, yakni menjauhi ketenaran. Para ulama tidak bertujuan mencari kemasyhuran. Tidak pula mereka menampakkan dan menawarkan diri untuk tujuan tersebut. Mereka juga tidak menempuh sebab-sebab yang menyampaikan ke arah sana. Apabila ternyata kemasyhuran tersebut datang dari sisi Allah Ta'ala, mereka berusaha melarikan diri darinya. Mereka lebih mengutamakan ketidaktenaran."[11]
رحم الله تعالى عبداً أخمل ذكره

"Semoga Allah Ta'ala merahmati seorang hamba yang tidak ingin dirinya tenar/dikenal." (Al-Fudhail bin Iyadh)

Kelima, orang yang memiliki ilmu yang bermanfaat itu dia selalu berprasangka jelek kepada dirinya sendiri dan berprasangka baik kepada orang lain demi menjaga kehormatan orang lain. Dia khawatir apabila menjatuhkan harga diri orang lain.

Ini bukan suatu hal yang mudah, karena sifat manusia itu suka mencari-cari kesalahan orang lain dan lupa dengan kesalahan diri sendiri bahkan menganggap lebih baik dibanding orang lain. Tujuan kita mencari ilmu itu untuk memperbaiki kesalahan kita, maka tuntunlah diri kita masing-masing dengan ilmu yang telah kita peroleh.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

إياكم والظن، فإن الظن أكذب الحديث، ولا تحسسوا، ولا تجسسوا، ولا تحاسدوا، ولا تدابروا، ولا تباغضوا وكونوا عباد الله إخوانًا

"Berhati-hatilah kalian dari tindakan berprasangka buruk, karena prasangka buruk adalah sedusta-dusta ucapan. Janganlah kalian saling mencari berita kejelekan orang lain, saling memata-matai, saling mendengki, saling membelakangi, dan saling membenci. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara."[12]

لا تحاسدوا، ولا تناجشوا، ولا تباغضوا، ولا تدابروا، ولا يبع بعضكم على بيع بعض، وكونوا عباد الله إخوانا، المسلم أخو المسلم، لا يظلمه، ولا يخذله، ولا يكذبه، ولا يحقره، التقوى ها هنا، ويشير إلى صدره ثلاث مرات، بحسب امرئ من الشر أن يحقر أخاه المسلم، كل المسلم على المسلم حرام دمه وماله وعرضه

"Jangan kalian saling hasad, jangan saling melakukan najasy, jangan kalian saling membenci, jangan kalian saling membelakangi, jangan sebagian kalian membeli barang yang telah dibeli orang lain, jadilah kalian sebagai hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara muslim bagi lainnya, karenanya jangan dia mendzaliminya, jangan menghinanya, jangan berdusta kepadanya, dan jangan merendahkannya. Taqwa itu di sini -beliau menunjuk ke dadanya dan mengucapkannya 3 kali-. Cukuplah seorang muslim dikatakan jelek akhlaknya jika dia merendahkan saudaranya sesama muslim. Setiap muslim diharamkan baginya darah, harta, dan kehormatan muslim lainnya." [13]

Umar bin Khattab radhiallahu 'anhu berkata,

لا تظن بكلمة خرجت من أخيك المؤمن شراًً وأنت تجد لها في الخير محملاً

"Janganlah engkau berprasangka buruk terhadap perkataan yang diucapkan saudaramu sedang engkau masih menemukan kemungkinan makna yang baik dalam ucapannya itu."[14]

Keenam, orang yang memiliki ilmu yang bermanfaat itu meninggalkan ucapan, "Saya memiliki ini dan itu, saya telah berhasil dalam ini dan itu" dan yang semisalnya dengan berbangga diri. Karena ini merupakan indikasi bentuk kesombongan sedangkan ilmu itu adalah memerangi kesombongan.

Masruq rahimahullah berkata,

بحسب الرجل من العلم أن يخشى الله عز وجل , وبحسب الرجل من الجهل أن يعجب بعلمه

"Cukuplah seseorang dikatakan berilmu jika ilmu tersebut membuahkan rasa takut kepada Allah 'Azza wa Jalla. Dan cukuplah seseorang dianggap bodoh tatkala membanggakan diri dengan ilmunya."[15]

Al-Imam Ibnu Abdil Barr rahimahullah berkata,

من أفضل أداب العالم تواضعه وترك الإعجاب بعلمه ونبذ حب الرئاسة عنه

"Di antara adab seorang yang berilmu yang paling utama adalah bersikap tawadhu' dan tidak ujub, yaitu merasa sombong, bangga, dan terkagum-kagum terhadap ilmu yang dimilikinya. Adab berikutnya, ia berusaha menjauhi kecintaan akan kepemimpinan dengan sebab ilmunya."[16]

اللهم اجعل عملي كله صالحا واجعله لوجهك خالصا ولا تجعل لأحد فيه شيئا

"Ya Allah, jadikanlah seluruh amalku sebagai amalan yang shalih, jadikanlah amalanku ikhlas karena mengharap Wajah-Mu, dan janganlah jadikan di dalam amalku bagian untuk siapapun (selain Engkau)." (Umar bin Khattab)
Semoga tulisan yang sedikit ini bermanfaat bagi penulis secara khusus dan kaum muslimin secara umum. Wa billahit taufiq.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

Tidak ada komentar