Breaking News

Petuah Akhlak dari Rasulullah kepada Sahabat Jabir bin Sulaim Al-Hujaimi

بسم الله الرحمن الرحيم

Dalam sebuah hadits dari seorang sahabat yang bernama Abu Jurai Jabir bin Sulaim Al-Hujaimi radhiallahu 'anhu, beliau berkata,

أَتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا قَوْمٌ مِنْ أَهْلِ الْبَادِيَةِ فَعَلِّمْنَا شَيْئًا يَنْفَعُنَا اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى بِهِ قَالَ لَا تَحْقِرَنَّ مِنْ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تُفْرِغَ مِنْ دَلْوِكَ فِي إِنَاءِ الْمُسْتَسْقِي وَلَوْ أَنْ تُكَلِّمَ أَخَاكَ وَوَجْهُكَ إِلَيْهِ مُنْبَسِطٌ وَإِيَّاكَ وَتَسْبِيلَ الْإِزَارِ فَإِنَّهُ مِنْ الْخُيَلَاءِ وَالْخُيَلَاءُ لَا يُحِبُّهَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَإِنْ امْرُؤٌ سَبَّكَ بِمَا يَعْلَمُ فِيكَ فَلَا تَسُبَّهُ بِمَا تَعْلَمُ فِيهِ فَإِنَّ أَجْرَهُ لَكَ وَوَبَالَهُ عَلَى مَنْ قَالَهُ

Aku mendatangi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kemudian aku berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami adalah suatu kaum yang berasal dari pedalaman, maka ajarkanlah kepada kami sesuatu yang Allah Tabaraka wa Ta’ala akan memberikan manfaat kepada kami dengannya."

Maka beliau bersabda, "Janganlah sekali-kali engkau meremehkan kebaikan sekecil apapun, walaupun hanya dengan menuangkan ember airmu ke bejana orang yang membutuhkan air, sekalipun dengan engkau berbicara kepada saudaramu dengan wajah berseri-seri, dan berhati-hatilah engkau dari menurunkan kain di bawah kedua mata kaki (isbal) karena ia bagian dari sifat sombong dan Allah 'Azza wa Jalla tidak menyukai kesombongan. Jika ada seseorang yang mencelamu karena dia tahu tentang dirimu, maka janganlah engkau balas mencelanya dengan sesuatu yang engkau ketahui tentang dia, karena itu akan menjadi pahala bagimu dan menjadi dosa baginya."

(diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam Shahihnya no. 522, Imam Ahmad dalam Musnadnya no. 20110, Al-Mundziri dalam At-Targhib Wat-Tarhib 3/366, dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani)

Di dalam hadits di atas terdapat pelajaran yang agung yang hendaknya kita petik sebagai bekal dalam kehidupan kita. Pertama, tentang semangat para sahabat dalam menuntut ilmu. Mereka jauh-jauh datang dari pedalaman menuju Kota Madinah hanya untuk bertemu Rasulullah, meminta pengajaran langsung dari beliau. Inilah bentuk keseriusan mereka dalam mencari ilmu yang menjadi sebab bertambah tingginya derajat mereka.

يَرْ‌فَعِ اللَّـهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَ‌جَاتٍ وَاللَّـهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ‌

"Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang berilmu beberapa derajat." (QS. Al-Mujadilah: 11)

Allah Subhanahu wa Ta'ala meninggikan suatu kaum dengan ilmu dan merendahkan suatu kaum karena ilmu pula. Sebagaimana dalam firman-Nya,

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي آتَيْنَاهُ آيَاتِنَا فَانسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ وَلَوْ شِئْنَا لَرَ‌فَعْنَاهُ بِهَا وَلَـٰكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الْأَرْ‌ضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِن تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُ‌كْهُ يَلْهَث

"Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami, kemudian dia melepaskan diri dari pada ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syaitan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Andaikata Kami menghendaki, sesungguhnya akan Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga)." (QS. Al-A'raf: 175-176)

Karena berpegang dengan ilmu dan apa yang diturunkan kepadanya (berupa ayat-ayat-Nya) akan mengangkat derajatnya, akan tetapi apabila ia tetap berpaling, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya pula.

Juga dalam hadits 'Umar Ibnul Khaththab radiallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

إنَّ اللهَ يرفعُ بهذا الكتابِ أقوامًا ويضعُ به آخرِينَ

"Sesungguhnya Allah mengangkat derajat suatu kaum karena kitab ini (Al-Qur'an) dan merendahkan kaum lainnya dengannya."[1]

Oleh karena itulah sebab yang paling utama dalam memperbaiki keadaan dan mencapai kejayaan umat ini adalah dengan mempelajari ilmu agama dengan penuh keseriusan dan kecintaan dalam mempelajarinya. Hal ini bisa dilihat dari keseriusan kita dalam mendatangi majelis-majelis ilmu, mempelajari Al-Qur'an dan hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Tidaklah cukup seseorang itu dikatakan penuntut ilmu bila sekedar memakai jubah yang bagus, memakai peci dan imamah yang indah akan tetapi tidak terlihat padanya keseriusan dalam mencari ilmu.

Jabir bin Sulaim Al-Hujaimi radhiallahu 'anhu, dia rela datang dari pedalaman, tampak padanya keseriusan dan semangat mencari ilmu demi meraih kebaikan negeri akhirat. Karena menuntut ilmu adalah jalan menuju surga. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

من سلك طريقا يلتمس فيه علما، سهل الله له طريقا إلى الجنة

"Barangsiapa yang berjalan untuk menuntut ilmu, Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga."[2]

Faidah selanjutnya dalam hadits ini, terdapat pengajaran dan wasiat dari Rasulullah, yang pertama tentang perkataan beliau,

ﻻ تحقرن من المعروف شيئًا

"Janganlah sekali-kali engkau meremehkan kebaikan sekecil apapun."

Inilah kaidah yang beliau ajarkan dalam menjalani kehidupan di dunia ini, bahwa kebaikan apapun itu tidak boleh diremehkan oleh seorang hamba, walaupun hal itu sepele dan remeh baginya. Rasulullah memberikan dua contoh di dalam hadits ini. Seseorang mengambil/menimba air dari sumur kemudian ia tuangkan ke dalam bejana orang yang membutuhkan air, ini adalah sesuatu hal yang biasa akan tetapi dihitung sebagai suatu kebaikan yang sangat bernilai. Demikian pula ketika seseorang berjumpa dengan orang lain, ia menampakkan wajah yang berseri-seri sehingga ada ikatan hati yang baik antara orang yang melihatnya dengan yang dilihat. Ini merupakan bagian dari akhlak yang ma'ruf yang masuk di dalamnya kaidah laa tahqiranna minal ma'rufi syai-an.

Banyak sekali sesuatu hal dalam kehidupan kita yang terlihat remeh namun itu adalah sesuatu yang ma'ruf. Semisal ketika ia masuk ke dalam masjid dan menemukan kotoran, maka ia pun membersihkannya. Ketika ia sedang berjalan dan mendapati duri, maka ia pun menyingkirkannya. Ketika di dalam rumah ia menjumpai makanan sisa yang masih bisa disimpan, maka ia menyimpannya dengan baik karena hal itu merupakan bentuk penghargaan terhadap nikmat dan setiap nikmat akan ditanyakan di hari kiamat di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala.

ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ

"Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan-kenikmatan (yang kamu peroleh)." (QS. At-Takatsur: 8)

Apalagi bila perkara-perkara kebaikan itu sesuatu yang besar di dalam agama. Seperti kewajiban menuntut ilmu, beramal dengannya, kewajiban saling menasihati dalam kebaikan dan mencegah dari hal yang munkar, mengajarkan ilmu kepada manusia, dan selainnya dari pokok-pokok agama. Maka tentu hal ini sangat tidak pantas untuk diremehkan apalagi ditelantarkan oleh seorang hamba.

Kemudian beliau melanjutkan wasiatnya,

وإياك وتسبيل الإزار فإنه من الخيلاء والخيلاء لا يحبها الله عز وجل

"Dan berhati-hatilah engkau dari menurunkan kain di bawah kedua mata kaki (isbal) karena ia bagian dari sifat sombong dan Allah 'Azza wa Jalla tidak menyukai kesombongan."

Isbal adalah seseorang memakai pakaian -apakah itu baju yang bersambung sampai bawah semisal jubah ataupun baju dengan memakai celana atau sarung atau yang semisal dengannya- sampai melewati mata kakinya.[3]

Hadits tersebut menjelaskan bahwa menurunkan pakaian di bawah mata kaki adalah suatu keharaman yang bersifat mutlak karena hal tersebut sudah menjadi bagian dari kesombongan dan tidaklah dihitung dari niat seseorang, sebagaimana perkataan sebagian orang, "Saya memakainya karena ingin terlihat rapi, bukan karena sombong." Sebab Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menganggapnya sebagai bagian dari kesombongan.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,

إِنَّ اللَّـهَ لَا يُحِبُّ مَن كَانَ مُخْتَالًا فَخُورً‌ا

"Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri." (QS. Luqman: 18)

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam juga telah menjelaskan akan bahayanya kesombongan yang menyebabkan seorang hamba terhalang untuk masuk ke dalam surga. Beliau bersabda,

لا يدخل الجنّة من كان فى قلبه مثقال ذرّة من كبر

"Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada sebesar dzarrah dari kesombongan."[4]

Telah jelas pula ancaman yang keras dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bagi mereka yang isbal. Di antaranya hadits dari Abu Dzar Al-Ghifari radhiallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

ثلاثة لا يكلمهم الله يوم القيامة ولا ينظر إليهم ولا يزكيهم ولهم عذاب أليم المسبل والمنان والمنفق سلعته بالحلف الكاذب

"Ada tiga jenis manusia yang tidak akan diajak bicara oleh Allah pada hari Kiamat, tidak dilihat, dan tidak akan disucikan oleh Allah. Untuk mereka bertiga siksaan yang pedih. Itulah laki-laki yang isbal, orang yang mengungkit-ungkit pemberian, dan orang yang melariskan barang dagangannya dengan sumpah yang dusta."[5]

Juga dalam hadits Abu Hurairah radhiallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

ما أسفل من الكعبين من الإزار ففي النار

"Kain yang panjangnya di bawah kedua mata kaki tempatnya adalah neraka."[6]

Bahkan dalam kitab-kitab para ulama disebutkan bahwa isbal termasuk deretan al-kabair (dosa-dosa besar). Dan tidaklah dosa-dosa besar itu akan diampuni kecuali dengan taubat nashuha kepada Allah 'Azza wa Jalla.

Di akhir hadits, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berwasiat,

وإن امرؤ سبك بما يعلم فيك فلا تسبه بما تعلم فيه فإن أجره لك و وباله على من قاله

"Jika ada seseorang yang mencelamu karena dia tahu tentang dirimu, maka janganlah engkau balas mencelanya dengan sesuatu yang engkau ketahui tentang dia, karena itu akan menjadi pahala bagimu dan menjadi dosa baginya."

Ini merupakan salah satu akhlak yang sangat agung yang diajarkan oleh Rasulullah. Ketika ada orang lain yang berbuat buruk kepadanya, ia tidak membalasnya dengan keburukan pula, akan tetapi ia memaafkannya dan membalasnya dengan berbuat baik. Apabila ada orang yang mencelanya, maka ia balas dengan memujinya. Apabila ada orang yang mengghibahinya, ia tidak membalas dengan mengghibahi orang tersebut.

Dikatakan dalam sebuah sya'ir,

كن كالنخيل عن الأحقاد مرتفعاً *** بالطوبِ يُرمى فيرمي أطيب الثمر

Jadilah engkau bagaikan pohon kurma yang menjulang tinggi jauh dari dendam
Saat dilempar dengan batu, ia pun membalas dengan kebaikan buahnya

Karena itu barangsiapa yang mampu bersabar dan menahan diri maka dijamin baginya pahala yang besar. Adapun perkataan yang jelek maka itu akan ditanggung dosanya bagi orang yang mengucapkannya.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala senantiasa memberikan rahmat-Nya kepada kita semua, menganugerahkan kepada kita akhlak yang baik, dan menjauhkan kita dari akhlak yang jelek. Wa billahit taufiq.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

Tidak ada komentar